PENGEMBANGAN KREATIVITAS
DAN KEBERBAKATAN
Disusun Oleh :
Nama
:
1.
Fahdiah
Auditawati (13514771)
2.
Jessica
Phoibe (15514649)
3.
Riski Wahyu Kurniawan (19514500)
Kelas
:
1PA18
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2014/2015
FAKULTAS PSIKOLOGI
2014/2015
Teori - Teori Mengenai Kreativitas
I.
Teori-teori
pendorong kreativitas
Kreativitas agar dapat terwujud diperlukan dorongan
dari individu (motivasi intrinsik)
maupun dorongan dari lingkungan (motivasi
ekstrinsik).
1)
Motivasi Intrisnik (motivasi untuk kreativitas)
Setiap
individu memiliki kecenderungan atau dorongan untuk dapat mewujudkan
potensi dan bakat yang dimilikinya, mewujudkan dirinya, dorongan
berkembang menjadi lebih matang, dorongan mengungkapkan dan
mengaktifkan semua kapasitasnya yang sering dikenal dengan mengaktualisasikan
dirinya secara nyata.
Dorongan
ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk
hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya manjadi dirinya
sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982).
Motivasi
Intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang
melakukan tindakan atau perilaku tidak berasal dari motif-motif atau
dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi Intrinsik
merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu
dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu. Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi
internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
2) Motivasi Ekstrinsik ( kondisi
eksternal yang mendorong perilaku kreatif)
Berkaitan
dengan keinginan dan minat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu (internal
desire) yang mulia. Orang akan lebih kreatif bila ia merasa termotivasi,
utamanya oleh karena minat, kepuasan, dan tantangan dari pekerjaan itu sendiri.
Jadi, termotivasi bukan karena tekanan-tekanan eksternal, seperti uang atau
kendali ketat sang atasan. Mumford dan Gastafson (1988 dalam Ng Aik Kwang,
2001:4) seorang yang kreatif terbuka untuk menerima pengalaman hidup, memiliki
minat dalam hidup dan tertarik untuk mendalami ide-ide yang kompleks, sehingga
dapat mengembangkan dan menggunakan model mental yang kompleks untuk memecahkan
masalah dalam dunia nyata. Walaupun kerja kreatif telah dijadikan pertimbangan,
namun model mental yang kompleks belum mencukupi. Karena Kreativitas sebagai
ide yang abstrak dan tidak dapat diukur (untested) harus diterjemahkan menjadi
tindakan yang konkret. Kreativitas dengan menggunakan teknik penilaian secara
konsensus (consensual assesment technique) (Ng Aik Kwang, 2011:5).
Bagaimana
cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri
anak (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut
pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis.
1. Keamanan psikologis
Ini
dapat terbentuk dengan 3 proses yang saling berhubungan:
a. Menerima individu sebagaimana adanya
dengan segala kelabihan dan keterbatasannya.
b. Mengusahakan suasana yang didalamnya evaluasi eksternal tidak ada
/ tidak mengandung efek mengancam. Evaluasi selalu mengandung efek mengancam
yang menimbulkan kebutuhan akan pertahanan ego.
c.
Memberikan pengertian secara empatis
Dapat
menghayati perasaan-perasaan anak, pemikiran-pemikirannya, dapat melihat dari
sudut pandang anak dan dapat menenrimanya, dapat memberikan rasa aman.
2. Kebebasan psikologis
Apabila
guru mengijinkan atau memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan
secara simbolis (melalui sajak atau gambar) pikiran atau perasaannya. Ini
berarti memberi kebebasan dalam berfikir atau merasa apa yang ada dalam
dirinya.
II. Teori
– Teori Tentang Proses Kreatif
1) Teori Wallas
Dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa
proses kreatif meliputi 4 tahap:
1.
Tahap
Persiapan : Mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah
dengan mengumpulkan data/informasi, mempelajari pola berpiir dari orang lain,
bertanya pada orang lain.
2.
Tahap
Inkubasi : Pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan,
individu melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. Ia tidak
memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya” dalam alam
pra sadar.
3.
Tahap
Iluminasi : Tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight”
atau “Aha Erlebnis”, saat tmbulnya inspirasi atau gagasan baru.
4.
Tahap
Verifikasi : Tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau
kreasi baru tersebut terhadap realitas. Di sini diperlukan pemikiran kritis dan
konvergen. Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses
konvergensi (pemikiran kritis).
2)
Teori tentang belahan otak kiri dan otak kanan
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi. Selanjutnya
baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan. Hampir
setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa
menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian
orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia”
yang membagi fungsi mentalnya menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan
otak kiri. Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan
pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
- Otak kanan
Otak yang berfungsi untuk berfikri holistic, special,
metaforik dan bisa dibilang dominan ke EQ ( emotional quotient ) seperti,
hayalan, emosi, music,warna, dll. Daya ingat nya bersifat panjang dan menguasai
belahan kiri badan. Contohnya :Orang kidal.
- Otak kiri
Otak yang berfungsi untuk berfikir secara rasional,
analitis, linier, berurutan, saintifik,serta belajar menghitung, membaca,
bahasa bisa dibilang pengendali IQ. Daya ingatnya bersifat pendek dan menguasai
belahan kanan badan. Contohnya : Bersalaman kepada orang menggunakan tangan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOujJlXiQhNu9qlqpgBOdHmO3greeE_mJy6Jh5JjlWm9_GRrRXzleMkPKc_ZPS6Gr6Jx-NVaZAGH4zI4oZWLPEPJYuV34HW78aB3HVyWhWbWJJL2Pepb5xL9wb2Hp-t6aoAnB2C6A7Iw4/s1600/otak+kirikananq.jpg
kanan.
Otak kanan dan otak kiri kita harus berjalan seimbang
karena kedua belahan otak tersebut sama pentingnya. Dengan IQ dan EQ yang
seimbang maka kemampuan manusia dalam
berfikir dan berkembang akan lebih memberikan kesempatan unutk hidup
lebih berguna,berwarna dan penuh dengan kebahagiaan maupun tantangan sehingga
tercapai tujuan yang optimal.
Menyeimbangkan
cara kerja otak kanan dan kiri berarti membuat kedua belahan otak tersebut
berfungsi ketika kita melakukan sesuatu. Dengan cara memunculkan keadaan yang relaks. Karena
dengan keadaan relaks tersebut akan membuat koneksi atau hubungan antara kedua
belahan otak menjadi cepat. Contoh lain yaitu : Dalam belajar misalnya, kita
dapat berpikir sambil mendengarkan musik yang memang kita sukai. Dengan kita
mendengarkan musik yang kita sukai membuat kita merasa senang, relaks sehingga
merangsang fungsi belahan otak kanan, dan
akan sangat membantu dalam proses belajar yang menggunakan belahan otak
kiri.
Bagan
Proses Pimikiran Otak
No
|
Belahan Otak Kiri
|
Belahan Otak kanan
|
1
|
Intelek
|
Intuisi
|
2
|
Kovergen
|
Divergen
|
3
|
intelektual
|
Emosional
|
4
|
Rasional
|
Mataforik, intuitif
|
5
|
Verbal
|
Non verbal
|
6
|
Horizontal
|
Vertikal
|
7
|
Kongkret
|
Abstrak
|
8
|
Realistis
|
Impulsif
|
9
|
Diarahkan
|
Bebas
|
10
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
11
|
Sekuensial
|
Multipel
|
12
|
Historikal
|
Tanpa batas waktu
|
13
|
Analisis
|
Sintesis, holistik
|
14
|
Eksplisit
|
Implisit
|
15
|
Objektif
|
Subjektif
|
16
|
Suksesif
|
Simultan
|
Keberbakatan dan Kreativitas
I.
Pengertian keberbakatan dan kaitannya
dengan pengertian kreativitas
1) Pengertian keberbakatan
Bakat
adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat (inherent) dalam diri
seseorang, merupakan bawaan sejak lahir dan terkait dengan struktur otak. Definisi Columbus Group, bakat adalah 'asynchronous development', yakni
kemampuan kognitif di atas rata-rata, mempunyai intensitas kuat yang dipadu
dengan pengalaman dan kesadaran diri yang secara kualitatif berbeda dengan
orang normal. Renzulli (1981), bakat merupakan gabungan dari tiga unsur
esensial yang sama pentingnya dalam menentukan keberbakatan seseorang, yakni
kecerdasan, kreativitas, dan tanggungjawab. Menurut Tedjasaputra, MS (2003),
bakat adalah kondisi seseorang yang dengan suatu pendidikan dan latihan
memungkinkan mencapai kecakapan, pengetahuaan dan keterampilan khusus.
Menurut
Widodo Judarwanto 2007, keberbakatan adalah kemampuan intelektual atau
kecerdasan diantaranya meliputi kemampuan intelektual musik, matematika,
fisika, kimia, elektronika, informasi tehnologi, bahasa, olahraga dan berbagai
tingkat kecerdasan di berbagai bidang lainnya yang kemampuannya jauh di atas
rata-rata anak seusianya. Menurut Galton 2002 , kebeberbakatan merupakan
kemampuan alami yang luar biasa, diperoleh dari kombinasi sifat-sifat yang
meliputi kapasitas intelektual, kemauan yang kuat, dan unjuk kerja.
Menurut
Renzulli 2002, keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan/atau
spesifik, tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat
kreativitas yang tinggi. Menurut Clark
(1986), keberbakatan adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa,
yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan.
Keberbakatan ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana
seseorang yang berbakat itu hidup.
Dilihat
dari sudut pandang berdimensi ganda, keberbakatan
adalah kemampuan unjuk kerja yang tinggi di dalam aspek intelektual,
kreativitas, seni, kepemimpinan, atau bidang akademik tertentu. Dalam
konsep luas dan terpadu, keberbakatan merupakan kecakapan intelektual superior,
yang secara potensial dan fungsional mampu mencapai keunggulan akademiak di
dalam kelompok populasinya dan atau berbakat tinggi dalam bidang tertentu,
seperti matematika, IPA, seni, musik, kepemimpinan sosial dan perilaku kreatif
tertentu dalam interaksidengan lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya
itu ditampilkan secara konsisten.
Anak
berbakat didefinisikan oleh USOE (United
States Office of Education) sebagai anak-anak yang dapat membuktikan
kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual,
kreatif, artistik, kapasitas kepemimpinan atau akademik spesifik, dan mereka
yang membutuhkan pelayanan atau aktivitas yang tidak sama dengan yang
disediakan di sekolah sehubungan dengan penemuan kemampuan-kemampuannya.
2) Pengertian kreativitas
Kreativitas
adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas)
dan originalitas dalam berfikir (Utami Munandar, 1977)
Kreativitas adalah suatu proses yang
menghasilkan sesuatu yang baru, apakah
suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock
1978)
Proses kreatif sebagai “ munculnya dalam tindakan suatu produk baru
yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian,
orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak” (Rogers, 1982) Penekanan
pada :
·
Aspek baru dari produk kreatif yang dihasilkan
·
Aspek interaksi antara individu dan lingkungannya / kebudayaannya
Kreativitas adalah suatu proses
upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek
kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas
kehidupan yang semakin baik (Alvian, 1983)
Kreativitas didefinisikan sebagai
suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu
secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan orang lain, diri sendiri dan alam
(Olson, 1992).
Meningkatkan
kreativitas merupakan bagian integral dari kebanyakan program untuk anak
berbakat. Jika kita tinjau program atau
sasaran belajar siswa, kreativitas biasanya disebut sebagai prioritas,
kreativitas memungkinkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu dan
teknologi, serta dalam semua bidang usaha manusia. Salah satu kendala konseptual utama terhadap
studi kreativitas adalah pengertian kreativitas sebagai sifat yang diturunkan/
diwariskan oleh orang yang berbakat luar biasa atau genius. Kreativitas, disamping bermakna baik untuk
pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat juga merupakan salah satu
kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah
satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia (Maslow, 1968).
3) Hubungan antara pengertian
keberbakatan dengan kreativitas
Konsepsi “
Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang
menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan)
keberbakatan ialah keterkaitan antara :
1. Kemampuan umum di atas rata – rata.
Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak
berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur
dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas
kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak
berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya
kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan.
Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes
akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “
kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur
oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir
kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial,
kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan
salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
2. Kreativitas di atas rata – rata.
Kelompok ( cluster) kedua yang dimiliki anak / orang
berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu
yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat
diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan – hubungan baru antara unsur
– unsur yang sudah ada sebelumnya.
3. Pengikatan diri terhadap tugas (
task commitment cukup tinggi).
Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan
pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas
sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan
ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam rintangan atau
hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah
mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis
untuk keberbakatan dan “ genius “,
namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras
merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat
keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan:
kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti
berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
Kesimpulan
:
Kreativitas, disamping bermakna
untuk pengembangan diri maupun pembangunan masyarakat, juga merupakan salah
satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai
salah satu kebutuhan paling tinggi manusia ( Maslow, 1968 ).
Ditinjau dari proses, menurut Torrance ( 1988),
kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat
dugaan tentang kekurangan ( masalah ) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis,
kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil –
hasilnya. Proses kreatif meliputi beberapa tahap, yaitu persiapan, inkubasi,
iluminasi, dan verifikasi.
Menurut Three-Ring Conception dari
Renzulli dan kawan – kawan, keberbakatan merupakan keterpautan antara kemampuan
umum diatas rata- rata, kreativitas diatas rata- rata, dan pengikatan diri
terhadap tugas atau motivasi internal.
Kreativitas dan keberbakatan
merupakan dua hal yang sangat penting dan berpengaruh terhadap kesuksesan
seseorang. Seseorang yang mempunyai kreativitas, pasti orang tersebut memiliki
bakat. Tetapi orang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
Sumber
:
Springer,
S.P. dan Deutch, G. 1981 (dalam Utami Munandar 199)
Dari
pandangan Wittrock (1980) dan Spinger dan Deutch (1981)
http://unaisatuzzahro.blogspot.com/2011/11/makalah-psikologi-kreativitas.html
http://arimbiwindapratiwi.blogspot.com/2010/03/pengembangan-kreatifitas-dan.html
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan
Kreativitas Anak Berbakat.Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar