Rabu, 08 April 2015

Tugas Portofolio 2 Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan



PENGEMBANGAN KREATIVITAS
DAN KEBERBAKATAN


Disusun Oleh :
Nama :
1.   Fahdiah Auditawati            (13514771)
2.   Jessica Phoibe                     (15514649)
3.   Riski Wahyu Kurniawan    (19514500)
Kelas :
1PA18

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI
2014/2015
 

Teori - Teori Mengenai Kreativitas
I.         Teori-teori pendorong kreativitas
Kreativitas agar dapat terwujud diperlukan dorongan dari individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik).
1)    Motivasi Intrisnik (motivasi untuk kreativitas)
Setiap individu memiliki kecenderungan atau dorongan untuk dapat mewujudkan potensi dan bakat yang dimilikinya, mewujudkan dirinya, dorongan berkembang menjadi lebih matang, dorongan mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitasnya yang sering dikenal dengan mengaktualisasikan dirinya secara nyata. 
Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya manjadi dirinya sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982).
Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Artinya, seseorang melakukan tindakan atau perilaku  tidak berasal dari motif-motif atau dorongan-dorongan yang berasal dari luar diri. Motivasi Intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi Intrinsik juga dikatakan sebagai motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).
2)    Motivasi Ekstrinsik ( kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif)
Berkaitan dengan keinginan dan minat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu (internal desire) yang mulia. Orang akan lebih kreatif bila ia merasa termotivasi, utamanya oleh karena minat, kepuasan, dan tantangan dari pekerjaan itu sendiri. Jadi, termotivasi bukan karena tekanan-tekanan eksternal, seperti uang atau kendali ketat sang atasan. Mumford dan Gastafson (1988 dalam Ng Aik Kwang, 2001:4) seorang yang kreatif terbuka untuk menerima pengalaman hidup, memiliki minat dalam hidup dan tertarik untuk mendalami ide-ide yang kompleks, sehingga dapat mengembangkan dan menggunakan model mental yang kompleks untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata. Walaupun kerja kreatif telah dijadikan pertimbangan, namun model mental yang kompleks belum mencukupi. Karena Kreativitas sebagai ide yang abstrak dan tidak dapat diukur (untested) harus diterjemahkan menjadi tindakan yang konkret. Kreativitas dengan menggunakan teknik penilaian secara konsensus (consensual assesment technique) (Ng Aik Kwang, 2011:5).
Bagaimana cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat memupuk dorongan dalam diri anak (internal) untuk mengembangkan kreativitasnya?
Menurut pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis.
1.      Keamanan psikologis
Ini dapat terbentuk dengan 3 proses yang saling berhubungan:
a.  Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelabihan dan keterbatasannya.
b.   Mengusahakan suasana  yang didalamnya evaluasi eksternal tidak ada / tidak mengandung efek mengancam. Evaluasi selalu mengandung efek mengancam yang menimbulkan kebutuhan akan pertahanan ego.
c.       Memberikan pengertian secara empatis
Dapat menghayati perasaan-perasaan anak, pemikiran-pemikirannya, dapat melihat dari sudut pandang anak dan dapat menenrimanya, dapat memberikan rasa aman.
2.      Kebebasan psikologis
Apabila guru mengijinkan atau memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan secara simbolis (melalui sajak atau gambar) pikiran atau perasaannya. Ini berarti memberi kebebasan dalam berfikir atau merasa apa yang ada dalam dirinya.
II.      Teori – Teori Tentang Proses Kreatif
1)    Teori Wallas
Dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap:
1.      Tahap Persiapan : Mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/informasi, mempelajari pola berpiir dari orang lain, bertanya pada orang lain.
2.      Tahap Inkubasi : Pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya” dalam alam pra sadar.
3.      Tahap Iluminasi : Tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”, saat tmbulnya inspirasi atau gagasan baru.
4.      Tahap Verifikasi : Tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhadap realitas. Di sini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).

2)       Teori tentang belahan otak kiri dan otak kanan
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi. Selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan. Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi mentalnya menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Teori ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
    • Otak kanan
Otak yang berfungsi untuk berfikri holistic, special, metaforik dan bisa dibilang dominan ke EQ ( emotional quotient ) seperti, hayalan, emosi, music,warna, dll. Daya ingat nya bersifat panjang dan menguasai belahan kiri badan. Contohnya :Orang kidal.


    • Otak kiri
Otak yang berfungsi untuk berfikir secara rasional, analitis, linier, berurutan, saintifik,serta belajar menghitung, membaca, bahasa  bisa dibilang pengendali IQ.  Daya ingatnya bersifat pendek dan menguasai belahan kanan badan. Contohnya : Bersalaman kepada orang menggunakan tangan https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOujJlXiQhNu9qlqpgBOdHmO3greeE_mJy6Jh5JjlWm9_GRrRXzleMkPKc_ZPS6Gr6Jx-NVaZAGH4zI4oZWLPEPJYuV34HW78aB3HVyWhWbWJJL2Pepb5xL9wb2Hp-t6aoAnB2C6A7Iw4/s1600/otak+kirikananq.jpg kanan.
Otak kanan dan otak kiri kita harus berjalan seimbang karena kedua belahan otak tersebut sama pentingnya. Dengan IQ dan EQ yang seimbang maka kemampuan manusia dalam  berfikir dan berkembang akan lebih memberikan kesempatan unutk hidup lebih berguna,berwarna dan penuh dengan kebahagiaan maupun tantangan sehingga tercapai tujuan yang optimal.
Menyeimbangkan cara kerja otak kanan dan kiri berarti membuat kedua belahan otak tersebut berfungsi ketika kita melakukan sesuatu. Dengan cara  memunculkan keadaan yang relaks. Karena dengan keadaan relaks tersebut akan membuat koneksi atau hubungan antara kedua belahan otak menjadi cepat. Contoh lain yaitu : Dalam belajar misalnya, kita dapat berpikir sambil mendengarkan musik yang memang kita sukai. Dengan kita mendengarkan musik yang kita sukai membuat kita merasa senang, relaks sehingga merangsang fungsi belahan otak kanan, dan  akan sangat membantu dalam proses belajar yang menggunakan belahan otak kiri.

Bagan Proses Pimikiran Otak

No
Belahan Otak Kiri
Belahan Otak kanan
1
Intelek
Intuisi
2
Kovergen
Divergen
3
intelektual
Emosional
4
Rasional
Mataforik, intuitif
5
Verbal
Non verbal
6
Horizontal
Vertikal
7
Kongkret
Abstrak
8
Realistis
Impulsif
9
Diarahkan
Bebas
10
Diferensial
Eksistensial
11
Sekuensial
Multipel
12
Historikal
Tanpa batas waktu
13
Analisis
Sintesis, holistik
14
Eksplisit
Implisit
15
Objektif
Subjektif
16
Suksesif
Simultan
Keberbakatan dan Kreativitas
I.               Pengertian keberbakatan dan kaitannya dengan pengertian kreativitas
1)    Pengertian keberbakatan
Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat (inherent) dalam diri seseorang, merupakan bawaan sejak lahir dan terkait dengan struktur otak.  Definisi Columbus Group, bakat adalah 'asynchronous development', yakni kemampuan kognitif di atas rata-rata, mempunyai intensitas kuat yang dipadu dengan pengalaman dan kesadaran diri yang secara kualitatif berbeda dengan orang normal. Renzulli (1981), bakat merupakan gabungan dari tiga unsur esensial yang sama pentingnya dalam menentukan keberbakatan seseorang, yakni kecerdasan, kreativitas, dan tanggungjawab. Menurut Tedjasaputra, MS (2003), bakat adalah kondisi seseorang yang dengan suatu pendidikan dan latihan memungkinkan mencapai kecakapan, pengetahuaan dan keterampilan khusus.
Menurut Widodo Judarwanto 2007, keberbakatan adalah kemampuan intelektual atau kecerdasan diantaranya meliputi kemampuan intelektual musik, matematika, fisika, kimia, elektronika, informasi tehnologi, bahasa, olahraga dan berbagai tingkat kecerdasan di berbagai bidang lainnya yang kemampuannya jauh di atas rata-rata anak seusianya. Menurut Galton 2002 , kebeberbakatan merupakan kemampuan alami yang luar biasa, diperoleh dari kombinasi sifat-sifat yang meliputi kapasitas intelektual, kemauan yang kuat, dan unjuk kerja.
Menurut Renzulli 2002, keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan/atau spesifik, tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi.  Menurut Clark (1986), keberbakatan adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa, yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. Keberbakatan ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan dimana seseorang yang berbakat itu hidup.
Dilihat dari sudut pandang berdimensi ganda, keberbakatan adalah kemampuan unjuk kerja yang tinggi di dalam aspek intelektual, kreativitas, seni, kepemimpinan, atau bidang akademik tertentu. Dalam konsep luas dan terpadu, keberbakatan merupakan kecakapan intelektual superior, yang secara potensial dan fungsional mampu mencapai keunggulan akademiak di dalam kelompok populasinya dan atau berbakat tinggi dalam bidang tertentu, seperti matematika, IPA, seni, musik, kepemimpinan sosial dan perilaku kreatif tertentu dalam interaksidengan lingkungan dimana kecakapan dan unjuk kerjanya itu ditampilkan secara konsisten.
Anak berbakat didefinisikan oleh USOE (United States Office of Education) sebagai anak-anak yang dapat membuktikan kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual, kreatif, artistik, kapasitas kepemimpinan atau akademik spesifik, dan mereka yang membutuhkan pelayanan atau aktivitas yang tidak sama dengan yang disediakan di sekolah sehubungan dengan penemuan kemampuan-kemampuannya.
2)    Pengertian kreativitas
Kreativitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfikir (Utami Munandar, 1977)
         Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru,  apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock 1978)
         Proses kreatif sebagai “ munculnya dalam tindakan suatu produk baru yang tumbuh dari keunikan individu di satu pihak, dan dari kejadian, orang-orang, dan keadaan hidupnya dilain pihak” (Rogers, 1982) Penekanan pada :
·         Aspek baru dari produk kreatif yang dihasilkan
·         Aspek interaksi antara individu dan  lingkungannya / kebudayaannya
            Kreativitas adalah suatu proses upaya manusia atau bangsa untuk membangun dirinya dalam berbagai aspek kehidupannya. Tujuan pembangunan diri itu ialah untuk menikmati kualitas kehidupan yang semakin baik (Alvian, 1983)
            Kreativitas didefinisikan sebagai suatu pengalaman untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas individu secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan orang lain, diri sendiri dan alam (Olson, 1992).
Meningkatkan kreativitas merupakan bagian integral dari kebanyakan program untuk anak berbakat.  Jika kita tinjau program atau sasaran belajar siswa, kreativitas biasanya disebut sebagai prioritas, kreativitas memungkinkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi, serta dalam semua bidang usaha manusia.  Salah satu kendala konseptual utama terhadap studi kreativitas adalah pengertian kreativitas sebagai sifat yang diturunkan/ diwariskan oleh orang yang berbakat luar biasa atau genius.  Kreativitas, disamping bermakna baik untuk pengembangan diri maupun untuk pembangunan masyarakat juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia (Maslow, 1968).
3)    Hubungan antara pengertian keberbakatan dengan kreativitas
Konsepsi “ Three-Ring Conception” dari Renzulli dan kawan – kawan ( 1981), yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria ( persyaratan) keberbakatan ialah keterkaitan antara :
1.      Kemampuan umum di atas rata – rata.
Salah satu kesalahan dalam identifikasi anak berbakat ialah anggapan bahwa hanya kecerdasan dan kecakapan sebagaimana diukur dengan tes prestasi belajar yang menentukan keberbakatan dan produktivitas kreatif seseorang. Bahkan Terman ( 1959) yang dalam penelitiannya terhadap anak berbakat hanya menggunakan kriteria inteligen, dalam tulisan – tulisannya kemudian mengakui bahwa inteligensi tinggi tidak sinonim dengan keberbakatan. Wallach ( 1976 ) pun menunjukkan bahwa mencapai skor tertinggi pada tes akademis belum tentu mencerminkan potensi untuk kinerja kreatif produktif.
Dalam istilah “ kemampuan umum” tercakup barbagai bidang kemampuan yang biasanya diukur oleh tes inteligensi, prestasi, bakat, kemampuan, mental primer, dan berpikir kreatif. Sebagai contoh adalah penalaran, verbal numerical, kemampuan spasial, kelancaran dalam memberikan ide, dan orisinalitas. Kemampuan umum ini merupakan salah atu kelompok keberbakatan di samping kreativitas dan “task – commitment”.
2.      Kreativitas di atas rata – rata.
Kelompok ( cluster) kedua yang dimiliki anak / orang berbakat ialah kreativitas sebagai kemampuan umum untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan memberikan gagasan – gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk  melihat hubungan – hubungan baru antara unsur – unsur yang sudah ada sebelumnya.
3.      Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment cukup tinggi).
Kelompok karakteristik yang ketiga yang ditemukan pada individu yang kreatif produktif ialah pengikatan diri terhadap tugas sebagai bentuk motivasi yang internal yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, meskipun mengalami macam – macam rintangan atau hambatan, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatkan diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Galton meskipun menganut pandangan dasar genetis untuk keberbakatan dan “ genius “, namun dia percaya bahwa motivasi intrinsic dan kapasitas untuk bekerja keras merupakan kondisi yang perlu untuk mencapai prestasi unggul.
Manfaat dari definisi Renzulli ialah melihat keterkaitan antara tiga kelompok ciri sebagai persyaratan keberbakatan: kemampuan umum, kreativitas, dan motivasi ( pengikatan diri terhadap tugas).
Jadi, menurut definisi Renzulli, seseorang yang memiliki kreativitas pasti berbakat, tetapi seseorang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
Kesimpulan :
Kreativitas, disamping bermakna untuk pengembangan diri maupun pembangunan masyarakat, juga merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, yaitu kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi manusia ( Maslow, 1968 ).
 Ditinjau dari proses, menurut Torrance ( 1988), kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan ( masalah ) ini, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil – hasilnya. Proses kreatif meliputi beberapa tahap, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
Menurut Three-Ring Conception dari Renzulli dan kawan – kawan, keberbakatan merupakan keterpautan antara kemampuan umum diatas rata- rata, kreativitas diatas rata- rata, dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi internal.
Kreativitas dan keberbakatan merupakan dua hal yang sangat penting dan berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang. Seseorang yang mempunyai kreativitas, pasti orang tersebut memiliki bakat. Tetapi orang yang berbakat belum tentu memiliki kreativitas.
Sumber :
Springer, S.P. dan Deutch, G. 1981 (dalam Utami Munandar 199)
Dari pandangan Wittrock (1980) dan Spinger dan Deutch (1981)
http://unaisatuzzahro.blogspot.com/2011/11/makalah-psikologi-kreativitas.html
http://arimbiwindapratiwi.blogspot.com/2010/03/pengembangan-kreatifitas-dan.html
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat.Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar